Jumat, 13 September 2013

SAUDARAKU, SAYA BERHARAP KITA SELALU BERSAMA DALAM PERJUANGAN LI 'ALAI KALIMATILLAHI, AMIN.

Kamis, 24 Januari 2013


Sura: Al-Faatiha
 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.



الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Praise be to Allah, the Cherisher and Sustainer of the worlds;



الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Most Gracious, Most Merciful;



مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Master of the Day of Judgment.



إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Thee do we worship, and Thine aid we seek.



اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ  
Show us the straight way,



صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
The way of those on whom Thou hast bestowed Thy Grace, those whose (portion) is not wrath, and who go not astray.


Sabtu, 19 Januari 2013


MANTRA

Saat membahas kajian wacana pada program doktor bahasa, kami membahas mantra. Saat itu juga terngiang masa-masa remaja penuh petualanga, salah satunya ada seorang tua yang mengijazahkan beberapa mantra kepada saya.
Tulisan ini tidak mengkaji apa itu wacana, klasifikasi, dan praktik analisisnya. Cukup  menguras energi jika saya tulis lagi di sini.
Biarlah adik-adik mahasiswa yang tinggi semangat kebahasaannya untuk membahas hal ini.
Dua mantra (dan masih banyak lainnya) berikut hanyalah nostalgia masa muda yang  ingin saya kenang.

Hong hyang kakang cahya
Adam adeku Rasululloh awakku
Sakabehing jalma ing manungsa
Sing  angrugu sing angrungu karo aku
Sedah kanyut kanyut korut
Krsana lailaha illalloh
Muhammad rosululloh
****

Sima pupu sima bayu sima putih
Nggeus kecekel ku aing
Nggeus kepengkeus prawasa
Taluk si cabang bayi
Peungpetkeun sungutna si anu
Peungpeutken deui amarahna si anu
****

Ya Allah, jika orang yang menghadiahkan mantra ini bersalah karenanya, ampunilah segala dosanya. Hanya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala hal yang tersembunyi!!

Jumat, 28 Desember 2012


Maaf

Saya pernah membuat kesalahan, dan itu cukup vatal. Awalnya tidak saya sadari, karena semua terjadi karena ulah dua orang teman. Saya memutuskan hubungan percintaan secara sepihak.  Setelah tiga belas tahun lamanya, dari beberapa orang yang  masih dekat dengannya, ia mengalami penderitaan panjang. Mulai dari kekecewaan terhadap lelaki, merasa dikhianati, hingga ia lari ke pelukan seorang lelaki  yang telah beristri.
Di lubuk hati yang paling dalam, saya masih mencintainya. Tapi perasaan itu saya pendam dan saya buang jauh-jauh, karena kami sudah mempunyai kehidupan masing-masing. Saya menyadari, yang terjadi adalah takdir semata. Manusia tidak akan bisa mengelak dari skenario yang Maha Kuasa.
Akhir tahun 2012, saya mencoba menelusuri keberadaannya di dunia maya. Tidak saya sangka ia mau saya sapa dan mengobrol lewat chatting facebook. Nada bicaranya cukup dewasa, seakan ia telah melupakan masalah di antara kami. Jauh dari kesan penderitaan yang saya dengar. Atas persetujuannya, kami berjanji untuk saling bertemu.
Saya sangat menghargai kesediannya untuk bertemu. Jika nanti bertemu, kalimat pertama yang ingin saya ucapkan adalah “maaf”, dan hutang penjelasan yang selama ini menghantui saya. Tak dapat dipungkiri bahwa meminta maaf adalah salah satu hal yang paling sulit saya lakukan. Tetapi dibanding penderitaan panjang yang ia alami, perasaan malu dan harga diri saya buang jauh-jauh. Yang saya pikirkan sekarang adalah, meminta maaf adalah bentuk penyembuhan harga diri saya dan memberikan ia kesempatan untuk memaafkan saya. Selain itu, meminta maaf mengobati hubungan silaturahmi saya dengannya. Mumpung kami juga masih diberi kesempatan untuk saling bertemu.
Semoga Allah mengampuni saya dan membukaakan pintu hatinya untuk mau memaafkan saya.

Minggu, 23 Desember 2012

Skala Prioritas

Istilah tersebut saya dengar dari pengajian rutin malam Senin di rumah kami. Beliau dengan sabar membimbing kami sekeluarga dan jamaah sekitar untuk membacakan Tafsir dan Fiqih. Qoddimil wujub 'ala nadb, Qoddimil Ahm minal Muhm, kalau tidak salah artinya: Dahulukan yang wajib dari yang sunnah, dahulukan yang penting dari yang kurang penting.
Di bangku kuliah saya mengenal pernyataan di atas dengan istilah skala prioritas. Ternyata pernyataan itu benar sekali. Saya mendapati kenyataan bahwa banyak sekali di antara kita yang kurang memperhatikan skala prioritas hidup. Seperti, banyak di antara kita yang menangguhkan ibadah wajib dengan mengerjakan pekerjaan lain yang secara duniawi sangat melalaikan. Padahal prioritas kita adalah Ridho Allah. Semua kegiatan duniawi yang melingkupi kita selayaknya dikemudiankan jika kita telah menemui hal yang sifatnya wajib. Kecuali kegiatan itu adalah sarana pendukung pelaksanaan yang wajib. Semoga pemahaman hamba ini faqir ini tidaklah keliru...
PERTEMUAN
Dalam hidup sudah selayaknya kita mencari guru. Guru yang harus kita cari adalah "Guru Mursid". Beliau adalah sosok yang dapat membimbing kita menuju Sang Ilahi. Siapakah Beliau???? Akan kucari di mana pun Beliau berada. Blog inipun lahir diinspirasi olehnya.
Seiring waktu sosok  itu telah ada, bahkan Beliau telah lama menungguku. Dimensi ruang dan waktu hanya Allah SWT, yang memiliki. Kan kutembus ruang yang kasat mata, kan kutebus waktu yang tlah lama terlewatkan.
Ya Allah Yang Maha Sempurna, berilah kekuatan hati untuk mengikuti bimbingannya. Ya Allah Yang Maha Kuasa lagi Bijaksana, berilah petunjuk atas perjalananku ini. Perjalanan yang berujung keridhoanMu.