Selasa, 18 Oktober 2011

HIDANGAN


Mengapa Umat Nasrani mengadakan kebaktian di hari Minggu pagi dan sore?

Pertanyaan ini terjawab ketika kami mengkaji tafsir Al Quran Surat Almaidah: 111-114. Dalam ayat inilah (kata Al Maidah yang artinya Hidangan yang diturunkan Allah Langsung dari langit) dijelaskan.
Makna Al Maidah sebagai hidangan yang turun dari langit juga dijadikan sebagai salah satu nama Surat dalam Al Quran.Turunnya hidangan dari langit ini adalah salah satu mu’jizat Isa Ibnu Maryam (atas permintaan Sam’un/Samson) dan kaum Hawariyyin pada hari Minggu, maka dijadikan oleh umat Nasrani, hari Minggu sebagai hari raya/Ied yang lamanya 1 hari ( pagi – sore).
Dalam mengkaji tafsir ayat Surat maidah ini, kita juga menemukan 2 kisah termashur yaitu tentang Kaum Hawariyyin dan Sam’un atau Samson.

Selasa, 04 Oktober 2011

Jadi inget lagi dengannya...


Lagu ini pertama kali saya dengar ketika saya kelas 2 SPG. Saking terkesannya, saya masih hapal dan sering menyanyikannya sambil membayangkan wajahnya. Oh, Suri, seandainya...

TEARDROPS
By The Radios

 Something in the words you never said
Makes me feel I ain't seen nothing yet
Catch me now I'm falling
Hear the angels calling
Calling somewhere deep inside my head

Close encounters of a different kind
Open up the part that's sealed and signed
Many hearts get broken
When words are left unspoken
Leaving nothing but a worried mind

Reff**
We could float like teardrops on the ocean
We could flow like water to the sea
It may sound unclever, we'd last forever
If you want to stay with me
If you want to stay

You never know for sure what's coming up
Sad the echobeat will never stop
You're the one and only
If you leave me lonely
You might as well let all the curtains drop

We could float like teardrops on the ocean
We could flow like water to the sea
It may sound unclever, we'd last forever
If you want to stay with me
If you want to stay with me

**
We could float like teardrops on the ocean
We could flow like water to the sea
It may sound unclever, we'd last forever
If you want to stay with me
….. If you just lay love on me

INSPIRATION


Mendengar lagu Cing Ai Chaing Ai, karya Raihan, saya jadi terinspirasi untuk memperdengarkannya di hadapan murid-murid. Mengapa? Lagu ini menurut saya sarat dengan muatan nilai-nilai kebersamaan dalam keberagaman. Berikut teksnya:

CING AI, CING AI

Cing Ai, Ching Ai
Wei Tak Tik Allah
Yi Che Ai, Wei Foo Chong Sen
Islam Sherai Ai Tik Chen Siang*2X
Sin Chong She Ser Ser Ker Yiu Allah
Allah Ping Fook Wo Men Tek Cha Niyen
Siau Soon Foo Moo Woo Ching Ter Kwan Hwai
Wo Men Yau Who Ai Whu Chuu
Selalulah Mengingati Allah
Masalah Kembali Pada Allah
Hormati Ibu Bapa Kerna Kasihnya
Tolong Menolong Sesama Kita…………….Kembali *
Mohammotek Sher Allah Tek Ser Che
Yi Cher Ai Tui Tai Cang Pei Her Siau Hai
Wei Siaw She Tha Thi Mei Tek
Ying Wei Siau Sher Yik Cung Sher Sher
Muhammad Itu Pesuruh Allah
Sayang Kepada Yang Tua Dan Muda
Akhlak Mulianya Mudah Tersenyum
Kerna Senyuman Itu Sedekah…………….Kembali *
Cintakan Allah Kasihkan Allah
Allah Maha Besar
Melindungi Kita Dengan Rahmatnya
Islam Ajaran Yang Berkasih Sayang
Laa Ilaahailallohu Muhammadurrosululloh**
Allah Shertu Yi Ter Chu
Muhammotek Sher Allah Ter Ser Che
Laa Ilaahailallohu Muhammadurrosululloh
Allah Shertu Yi Ter Chu
Muhammotek Sher Allah Ter Ser Che

Betapa Sulitnya,...


NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA

RELIGIUS, JUJUR, TOLERANSI, DISIPLIN,  KERJAKERAS, KREATIF, MANDIRI,  DEMOKRATIS,RASA INGIN TAHU,  SEMANGAT KEBANGSAAN, CINTA TANAH AIR, MENGHARGAI PRESTASI, BERSAHABAT/KOMUNIKATIF, CINTA DAMAI,  GEMAR MEMBACA,  PEDULI SOSIAL,   PEDULI LINGKUNGAN, TANGGUNG JAWAB.

Nilai-nilai tersebut dapat diaplikasikan dalam penyusunan RPP berkarakter.
Mencantumkannya dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran memang mudah, tapi pengejawantahannya dalam pembelajaran ternyata sulit, palagi sebagai pendidik, sebelum memelajarkannya kepada anak, apakah ia bisa dan sanggup mengamalkanya untuk dirinya sendiri???

Rabu, 28 September 2011

ANALISIS WACANA


KOHESI LEKSIKAL
DALAM TEKS PIDATO DR. KH. ZAENUDIN MZ.

I. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Siapa yang tidak kenal Bung Karno, sang orator ulung. Kita baca dalam sejarah bagaimana orang-orang yang mendengar bapak proklamator republik Indonesia ini mampu menghipnotis pendengarnya karena kedahsyatan beliau dalam berpidato.
Pidato adalah sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorasi untuk menyatakan pendapatnya, atau memberikan gambaran tentang suatu hal. Pidato biasanya dibawakan oleh seorang yang memberikan pernyataan tentang suatu hal atau peristiwa yang penting dan patut diperbincangkan. Pidato juga merupakan salah satu teori dari pelajaran bahasa indonesia.
Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karier yang baik. Contoh pidato yaitu seperti pidato kenegaraan, pidato menyambut hari besar, pidato pembangkit semangat, pidato sambutan acara atau event, dan lain sebagainya. Dalam berpidato, penampilan, gaya bahasa, dan ekspresi kita hendaknya doperhatikan serta kita harus percaya diri menyampaikan isi dari pidato kita, agar orang yang melihat pidato kita pun tertarik dan terpengaruh oleh pidato yang kita sampaikan.
Penelitian ini diawali dengan kekaguman penulis terhadap pidato-pidato almarhum DR. KH. Zaenudin MZ. Sejak duduk di bangku SD telah mengenal almarhum karena sering mengundang beliau dalam peringatan hari besar keagamaan di Masjid Jami Al Ihsan Lebak Bulus tempat penulis tinggal sekitar tahun 80-an.
Sejak tahun 80-an almarhum DR. KH. Zaenudin MZ. Telah aktif berdakwak dari masjid ke masjid. Pada tahun-tahun 80-an almarhum memang sudah terkenal namanya sebagai pendakwah yang ceramahnya enak di dengar, tetapi beliau belum terkenal sebagai ’dai sejuta umat’. Nama almarhum mencuat sebagai seorang penceramah ulung dan dikenal  sebagai dai yang selalu diharapkan kehadirannya untuk didengar ceramah-ceramahnya yang enak didengar, tidak membosankan, karena kepiawaiannya berceramah atau berpidato.
Sebagai mahasiswa yang sedang mempelajari ilmu bahasa, penulis ingin meneliti pidato atau ceramah yang dibawakan almarhum DR. KH. Zaenudin MZ. Yang banyak mengundang banyak perhatian masyarakat. Selama ini, data berupa teks pidato almarhum sulit diperoleh, karena sumber data yang ada kebanyakan berupa rekaman dalam bentuk MP3. Untuk menelitinya penulis memindahkan isi rekaman yang didengar dalam bentuk teks dari rekaman yang ada. Teks pidato yang dicatat adalah rekaman ceramah almarhum yang berjudul ”Reformasi Aqidah bagian 1, yang direkam pada bulan Ramadhan tahun 2002, yang di download dari internet.
Selama ini kita mendengar ceramah atau pidato almarhum DR. KH. Zaenudin MZ, yang terkenal karena keahliannya merangkai kata dan kalimat sehingga menjadi pidato yang enak didengar. Pidato beliau juga mudah dicerna dan penuh dengan lawakan segar, sehingga banyak orang dan para pemerhati bahasa mengakuinya. Apakah jika diteliti dalam kajian wacana, pidato almarhum dapat dikatagorikan sebagai wacana yang baik yaitu memenuhi aspek kekohesian dan kekoherenan. Inilah yang melandasi tulisan penelitian kecil ini.
Kegiatan analisis teks pidato DR. KH. Zaenudin MZ. Ini  berkonsentrasi pada hubungan bentuk antar bagian wacana yang disebut kohesi (Pratomo,2002:17), karena keterbatasan waktu yang tersedia. Analisis kewacanaan yang penulis lakukan difokuskan pada analisis kohesi leksikal Teks Pidato DR. KH. Zaenudin MZ. yang meliputi  reiterasi dan kolokasi. Hal ini dilakukan untuk menjamin kualitas analisis wacana.
Keberadaan aspek leksikal dalam wacana cerpen diketahui akan dapat membangun sebuah wacana menjadi kohesif. Dijelaskan lebih lanjut bahwa segi bentuk merupakan struktur lahir dari bahasa yang mencakup aspek gramatikal, sedangkan segi makna adalah struktur batin bahasa yang mencakup aspek leksikal.
Analisis wacana muncul sebagai upaya untuk menghasilkan deskripsi bahasa yang lebih lengkap sebab terdapat fitur-fitur bahasa yang tidak cukup jika hanya dianalisis dengan menggunakan aspek struktur dan maknanya saja. Oleh karena itu, melalui analisis wacana dapat diperoleh penjelasan mengenai korelasi antara apa yang diujarkan, apa yang dimaksud, dan apa yang dipahami dalam konteks tertentu. Hal ini sesuai dengan pendapat Cutting dalam Tarigan (2002:5) yang mengatakan bahwa analisis wacana merupakan pendekatan yang mengkaji relasi antara bahasa dengan konteks yang melatarbelakanginya. Lebih rinci lagi Stubbs (1983:16) mengemukakan bahwa analisis wacana:
“attempts to study the organization of language above the sentence or the clause, and therefore to study larger linguistic units, such as conversational exchanges or written texts. It follows that discourse analysis is also concerned with language in use in social contexts, and in particular with interaction or dialogue between speakers ”.